Kisah-Umar-Bin-Abdul-Aziz

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz ikut sebuah upacara penguburan. Ketika sampai ditempat pemakaman, dia pergi ke sebuah tempat yang terpencil dan duduk di sana sambil berpikir tentang sesuatu.
Kemudian, ada seseorang menyapanya dengan menanyakan alasan kenapa dia duduk menyendiri.

Umar bin Abdul Aziz, langsung memberi tahu kenapa dia datang kesana, yaitu karena panggilan kubur.
Kubur itu telah berkata padanya, 
"Wahai Umar Bin Abdul Aziz, mengapa engkau tidak tanya padaku cara menyambut mereka yang datang untuk bertemu denganku ?"

Umar bin Abdul Aziz meminta kubur untuk menceritakan hal itu.
Kubur berkata, "Aku renggut peti-peti mati mereka, dan merobek-robek kuburan mereka sampai berkeping-keping, menyedot darahnya, dan memakan dagingnya. Haruskah aku beri tahu engkau bagaimana aku mencerai beraikan sendi sendi orang yang meninggal, ? Aku pisahkan bahu dari lengan, lengan dari pergelangan, pinggul dari paha, paha dari tulang-tulang, lutut dari betis, dan betis dari kaki."

Setelah mengatakan hal itu, 

Umar bin Abdul Aziz menangis dan berkata, "Waktu tinggal di dunia cuman sebentar, tetapi banyak pemikatnya. Siapa yang dihormati di dunia ini, dia akan dihormati di Akhirat, (maksudnya, di hormati karena perilaku yang mulia, dan di ridoi allah swt).
Siapa yang kaya di dunia, dia adalah pengemis di sana. Mereka yang muda, pasti menjadi tua, dan mereka yang hidup, pasti akan mati.
Orang harus menjauhkan dirinya dari dunia, karena kalau tidak, dunia akan menipunya."

Orang yang bodoh adalah orang yang tertipu oleh umpan-umpannya. Dia selalu menjaga kesehatannya, tetapi kesehatan tersebut hanya digunakan untuk meningkatkan nafsu badannya, dan berasik-asik masuk dengan dosa. Kekayaannya yang berlimpah menjadi sumber iri hati manusia lainnya di dunia. Dia mengumpulkan uang dengan rakus. Orang lain iri terhadapnya, namun dia terus menerus menumpukan kekayaannya. Nafsu telah merusak bentuk tubuhnya. 

Cacing-cacing telah memakan habis sendi, dan tulang-tulangnya. Padahal dahulunya dia sering tidur di tempat tidur yang nyaman, singgasana mewah, bantal-bantal empuk, mempunyai banyak pembantu, dan tetangganya selalu siap memujinya.

Dapatkah seseorang memberi tahu tentang penderitaan yang dia tanggung, ?

Orang-orang miskin, kaya, semua berada di atas tanah yang sama. Dimanakah kekayaan, dan orang-orang kaya, ? Mampukah kekayaannya menolongnya, ? Apakah kemiskinan para pengemis, akan mencelakakannya, ?

Sumber : buku hidayah mei 2006 halaman 38.