Makalah sholat jumat lengkap 

 Bersumber Dari kelompok kami, tahun 2016.
apabila ada kekurangan atau kesalahan, kami mohon untuk koreksinya bisa lewat komentar di bawah atau facebook.

MAKALAH SHOLAT JUMAT, DAN SHOLAT JAMAAH
Disusun guna melengkapi mata kuliah:
FIQIH IBADAH
Dosen Pengampu : H.M. Subhan Idris S.A.g.M.s.i
makalah-sholat-jumat-lengkap

Di Susun Oleh :
Abdul Nurrosin
Ika Mufarikha
Toatul Walidain
Mursi

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2016

A. Latar Belakang
     
        Kedudukan shalat dalam agama islam sangat tinggi dibanding dengan ibadah yang lainya. Dan shalat  merupakan pondasi utama bagi tegaknya agama islam atau keislaman seseorang. Dengan demikian tidaklah dapat di katakan seseorang beragama islam jika yang bersangkutan tidak melakukan shalat, sebelum melakukan shalat kita harus mengetahui pengertian, hukum-hukum dan syarat-syarat shalat yang akan kita kerjakan. Berjamaah sangat di anjurkan, karena dengan berjamaah, apabila shalat kita ada yang kurang sempurna, maka akan tertutupi dengan berjamaah itu. Shalat berjamaah termasuk salah satu keistimewaan yang di berikan dan di syariatkan secara khusus bagi umat islam. Ia mengandung nilai-nilai pembiasaan diri untuk patuh, bersabar, berani, dan tertib aturan, di samping nilai sosial untuk menyatukan hati dan menguatkan ikatan.
Selain  shalat jamaah shalat jum’at menjadi kewajiban setiap muslim. yang juga sebagai forum silaturahim bagi umat muslim dan juga menunjukkan syiar islam dikalanngan wilayah masing-masing, Pada hari jum’at, Allah memperlihahkan dengan jelas kepada hamba-hamba-Nya berbagaaai amal yang utama, nikmat-nikmat yang melimpah, dan berkah-berkah yang tak terhitung jumlahnya.
Oleh karena itulah Allah mensyariatkan kaum muslimin untuk berkumpul di hari raya sepekan sekali untuk berdzikir kepada Allah, mensyukuri-Nya, dan menunaikan shalat jum’at. Allah memberikan perhatian yang lebih besar kepada shalat jumat dari pada shalat-shalat yang lain. Pada kesempatan itu seluruh kaum muslimin berkumpul di masjid agung untuk mendengarkan khutbah seorang khatib yang akan memberi nasehat kepada mereka, dan mengajak mereka untuk ingat serta taat kepada Allah, dan mengikuti sunah Nabi-Nya Sallallahu Alaihi wa Sallam.        

B. Rumusan Masalah          
1. Sholat jamah
a. Apa yang dimaksud sholat jamah ?
b. Apa hukum sholat jamah ?
c. Apa sajakah syarat-syarat jamah dan hukum        orang yang meninggalkannya ?
d. Udhur-udhur berjamaah.

2. Sholat Jumat
a. Apa yang di maksud sholat jumat ?
b. Apa hukum sholat jumat ?
c. Apa sajakah syarat-syarat sholat jumat, dan keutamaannya sholat jumat ?

C. PEMBAHASAN
 
1. SHALAT JAMA’AH
a. Pengertian Shalat Jamaah 
    Shalat jamaah adalah shalat yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dengan satu orang didepan sebagai imam dan yang lainya dibelakang menjadi makmum.
Shalat jamaah termasuk salah satu keistimewaan yang diberikan dan disyariatkan secara khusus bagi umat islam. Karena di dalamnya mengandung nilai-nilai pembiasaan diri untuk patuh, bersahabat, berani, dan tertib aturan, disamping nilai sosial untuk menyatukan hati dan menguatkan ikatan.

b. Hukum Shalat Berjamaah    
Shalat berjamaah hukumnya sunah muakad, artinya sunah yang dikuatkan atau sunah yang sangat penting untuk di kerjakan. Sehubungan dengan ini, Allah SWT. Berfirman  dalam Al Quran surah An Nisa ayat 102 yang berbunyi:

وَاِذَاكُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ
Artinya:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu”.(QS. An Nisa: 102).
Di samping itu bagi orang yang mengerjakan shalat berjamaah, maka dilipat gandakan pahalanya sampai 27 kali lipat di banding dengan shalat sendiri. Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW:
عن ابن عمر عن رسول اللة صلى اللة عليه وسلم قال صلاة جماعة افضل من صلاة الفد بسبع عشريندرجة
Artinya:
Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW. bersabda: “kebaikan shalat berjamaah itu melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat”.(HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjama’ah, sebagian ulama menilai, shalat jama’ah Hukumnya ferdu kifayah. Sebagian lagi berpendapat hukumnya sunah muakadah. Sebagaian ulama lain mengatakan shalat jama’ah menyatakan bahwa shalat berjamaah merupakan syarat shalat berjama’ah.
Shalat berjama’ah itu ferdu ain bagi setiap laki-laki, dalam keadaan mukim atau dalam perjalanan, yang terkait dengan shalat fardhu. Di dalam surat An- Nisa Ayat 102 Yang artinya
“Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan diantara mereka berdiri (shalat) besetamu dan menyandang senjata. Kemudian, apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud ( telah menyempurnakan shalat), maka hendaknya mereka berpindah dari belakangmu ( untuk menghadapai musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat lalu hendaklah mereka shalat bersamamu dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.”
Seandainya shalat berjama’ah Hukumnya sunnah, tentunya situasi darurat seperti masa prang kala itu cukup menjadi alasan bagi gugurnya perintah shalat berjama’ah. Dan seandainya hukumnya fardhu kifayah, maka kewajiban orang lain akan gugur sebab telah ada orang lain yang mendirikan shalat berjama’ah, Dengan demikian , hukumm shalat berjamaah adalah frdhu ain Bagi setiap laki-laik Muslim.
Ibnu katsir mengatakan,” Amat tepat kiranya menempatkan ayat tersebut sebagai dalil yang menguatkan pendapat bahwa shalat bejamaah hukunya Wajib. Banyak hal yang disisihkan demi kepentingan shalat berjamaah.Seandainya alasanya bahwa shalat berjamaah wajib, tentunya hal-hal itu tidak dikorbankan ,” Apabila shalat berjama’ah ditengah berkecamukanya perang saat musuh mengepung tetap diprintahkan, maka dalam keadaan aman dan damai tentu lebih utama untuk diwajibkan.

c. Syarat-syarat Shalat Berjamaah
Syarat-syarat berjamaah dapat di katagorikan menjadi dua; syarat yang berhubungan dengan imam dan syarat-syarat yang berhubungan dengan ma’mum.
1. Syarat menjadi imam
a. Islam, karena itu adalah syarat utama dalam pendekatan diri seorang hamba kepada Allah
b. Akil
c. Baligh, merujuk hadist nasari Ali, bahwasanya Nabi muhammad SAW bersabda: “Diangkatlah pena dari dua orang (perbuatan mereka tidak di catat sebagai kebaikan maupun keburukan): Dari orang gila yang kehilangan kontrol atas akalnya sampai ia sadar, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh.”
d. Laki-laki, imam sholat jamaah harus seorang laki- laki, dan wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki,
e. Imam haruslah orang yang mampu membaca Al-qur’an dengan baik. Dengan bahasa lain, orang yang tidak ahli membaca Al-qur’an tidak boleh menjadi imam orang yang ahli membaca Al-quran, karena sholat meniscayakan Al-qur’an.

2. Syarat mengikuti jamaah bagi makmum.

a. Tidak boleh mendahului imam, merujuk hadist Rasullah SAW:

اِنَّمَاجُعِلَ الاْءِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
Artinya: Sesungguhnya imam di tunjuk untuk diikuti.

b. Mengetahui gerakan perpindahan imam, dengan melihat, mendengarkan atau mengikuti dari jamaah lain jika demikian halnya maka sholat jamaahnya sah meskipun jaraknya jauh dan terhalang oleh bangunan. Selama tidak menghalangi untuk mengetahui perpindahan gerakan imam maka tetap sah meskipun suara imam tidak sampai ke shalat mereka bahkan meskipun tempatnya berbeda seperti masjid dan rumah.

c. Mengikuti imam, dalam arti bahwa gerakan ma’mum dalam sholat harus setelah gerakan imam. Hal itu merujuk pada hadist: “Sesungguhnya imam ditunjuk untuk diikuti, maka janganlah kamu berbeda dengannya, jika ia bertakbir maka takbirlah kalian dan jangan bertakbir jika ia ruku’ , maka ruku’ lah kalian dan jangan ruku’ dulu sebelum ia ruku’. Jika ia berkata: Sami’allohu liman hamidah, maka ucapkanlah robbana laka al-hamid, jika ia sujud, maka sujudlah dan jangan sujud dahulu sebelum ia sujud.”
Hadist diatas menunjukan bahwa imam harus diikuti dan orang yang mengikuti tidak boleh mendahului orang yang diikuti dan juga tidak boleh membarengi dalam tindakanya, tetapi memperhatikan dan mengawasinya, mengikuti segala gerak-geraknya dan tidak berbeda maupun mendahului secara sama.

d. Makmum mengetahui status dan keadaan imam, apakah imamnya termasuk orang yang muqim (penduduk setempat) atau orang musafir, jika makmum tidak mengetahui ststus dan keadaan imam, maka tidak boleh mengikutinya.
Hukum orang yang meninggalkan jama’ah
      Orang yang meninggalkan jama’ah tidak lepas dari ( 2 ) Hal.
a. Saat meninggalkan shalat berjamaah sebab adanya udzur yang di benarkan syariat sehingga terpaksa shalat sendiri, seperti orang yang sakit, dan takut pada ancaman bahaya. Dalam keadaan demekian, akan di catat baginya pahala orang yang shalat berjamaah. Rasulullah saw bersabda :
“ Apabila salah seorang di antara kalian menderita sakit atau sedang bepergian, maka akan dicatat baginya ( pahala amal ibadah) seperti yang dia lakaukan  dalam keadaaan sehat dan tidak dalam perjalanan. (HR Bukhari).

b. Saat orang meninggalkan shalat berjamaah tanpa ada udzur yang di benarkan syriat. Shlatnya tetap sah, tetapi dia berdosa karena meningglkan hal yang wajib. Sebagian ulama bependapat bahwa shalat berjamaah merupakan syarat sah shalat, berdasarkan pendapat tersebut, orang yang shlat sendirian atau tidak berjamaah tanpa ada udzur, maka shalatnya tidak sah. Pendapat tersebut lemah karena bertentangan dengan makna yang terkandung dalam sabda rasulullah saw,
  “ Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendiri dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh kelebihan” ( HR Muslim).
Penjelasannya adalah bahwa apabila seuatu disebut lebih utama daripada yang lain, maka masing-masing memiliki keutamaan. Adanya keutamaan menunnjukkan bahhwa sesuatu itu ( dalam hal ini shalat sendiri) tetap sah, sebab yang tidak sah itu tidak mempunyai nilai keutamaan. Tidak benar pula apabila dikatakan bahwa hadis tersebut berkenan dengan hak oarang-orang  yang mendapatkan udzur. Berdasarkan pada sabda Rasululloh saw, “ apabila salah seorang diantara kalian menderita diantara sakit atau sedang bepergian, maka akan dicatat baginya (pahala amal ibadah) seperti yang dia kerjakan dalam keadaan sehat dan tidak dalam perjalanan. Shalat berjamaah diwajibkan hanya bagi laki-laki, sedangkan bagi kaum wanita itu hukumnya sunnah dengan idzin suami. Apabila seorang wanita keluar rumah untuk shalat berjamaah dimasjid, maka dia wajib berbusana tertutup, tidak menampakan perhiasan, tidak memakai wewangian, menjaukan diri dari kaum laki-laki, dan menempati barisan paling belakangdalam shalat.
Kaum wanita disunnahkan untuk shalat  berjamaah bersama sesama kaum wanita. Dalam hal ini, boleh diimami sesama  wanita atau lelaki, karena mereka adalah termasuk mendapatkan kewajiban mendirikan shalat sehingga tercakup  dalam pengertian umum sabda Rosululloh saw yang di terapkan diatas. Ada sebuah riwayat yang diceritakan oleh  sahabat Ummu waraqah binti abdul harist , Suatu hari rasululoh saw berkunjung kerumahnya. Ketika itu beliau memerintahkan seorang lelaki sebagai muadzin bagi Ummu waraqah dan rasululloh saw memerintahkan wanita itu untuk menjadi imam shalat bagi kerabatnya.’Abdurrohman  mengatakan,”Aku mengetahui bahwa lelaki yang ditunjuk oleh rosululloh sebagai mudzin itu adaah orang yang lanjut usia” (HR Abu Dawud). Perintah shalt berjamaah bagi wanita juga dikuatkan olehpara sahabiyat (para sahabat wanita rasulullah).

d. Udhur-udhurnya shalat berjam’ah
 
  Udhurnya shalat berjamaah ,Adalah sebagai berikut ini;
1. Hujan, jika menjadikan pakainnya basah kunyup dan dia tidak menemukan alat peneduh (umpama payung).
2. Sakit, yang menjadikan sulit untuk hadir sebagaimana dengan menjadikan sulitnya udzur hujan.
3. Merawat orang sakit keras, yang belum ada petugas perawatnya;
4. Menghormati kerabat atas kematiannya (sabagai wujud bela sungkawa) Atau akan membuat kerabat merasa senang sebab dia merawat, sama halnya dengan kerabat; seorang istri, mertua, budak, teman, guru, budak-budak, budak merdeka dan orang yang memerdekakan. Termasuk udzur pula, merasa takut atas keselamatan jiwanya atau harga dirinya ataupun hartanya, takut dibiturnya memaksa untuk melunasi hutangnya sementara dia belum mampu melunasi, mengharap kemampuan hukuman yang dia tanggung, sedang kebelet hadats sementara waktu shalat masih cukup longgar, tidak ada pakaian yang layak, dan sangat mengantuk. Dan termauk udzur lagi, dimalam hari angin begitu kencang (udzur untuk berjamaah shalat shubuh) teman molai berangkat pergi (udzur bagi yang mau bepergian) memakan sesuatu yang menjadikan mulut berbau busuk yang masih mentah juga yang baunya tersebut sulit untuk dihilangkan., talang pasar airnya mengucur (sehingga akan mengenai pakainnya bila lewat) dan ada gempa.

Makalah sholat Jumat dan sholat jamah (lengkap)

baca juga tentang makalah i'robul quran

2. SHOLAT JUMAT

A. Pengertian Sholat Jumat

   Sholat jamah adalah sholat dua rokaat yang dilakukan dengan berjamaah, setelah dilakukannya khutbah dua pada waktu sholat duhur, di hari jumat.
Sholat Jumat, dan khotbah jumat mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan. Keduanya saling melengkapi. Oleh karena itu, sebelum khotib naik mimbar, biasanya ada pengumuman "Bahwa pada saat khotib naik mimbar atau khotbah, dilarang berbicara, berisyarat dan sejenisnya. Barang siapa melakukanya maka sia-sialah jumatanya". Shalat jum’at dapat dilakukan di dalam kota  maupun diluar kota, seperti di masjid di kantor, atau di lapangan yang sekelilingnya ada penduduknya. Hal ini Rasullalah SAW, bersabda: 

جَمَعَهَاالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ اَنَّهُ لَمَا قَدَّمَ اْلمَدِ يْنَةَ نَزَلَ اَوَّلُ جُمْعَةَ
قُبَاءَوَاَقَامَ بِهَااِلَى اْلجُمْعَةِ ثُمَّ دَخَلَ اْلمَدِ يْنَةَ وَصَلَى اْلجُمْعَةَ فِيْ دَارِبَنِى سَالِمِ اِبْنُ عَوْفٍ

Artinya:
Jum’at yang pertama kali di lakukan nabi SAW. yaitu ketika beliau hampir sampai di madinah seraya bertempat dan mendirikan jumatan di Quba, lalu beliau masuk madinah dan salat jumat di rumah Bani Salim bin Auf’. ( HR. Bukhari dan Abu Daud ).
Didalam hadis diatas bahwa Rasulullah saw. Mengerjakan shalat jum’at ialah dimadinah, beliau saw. Berhenti dikampung Amr ibnu Auf. Rasulullah tiba di Quba ini pada hari senin dan beliau tinggal di sana hingga hari kamis. Selama waktu beliau berusa membangun sebuah masjid untuk kaum muslimin di Quba.’ Pada hari jum’at beliau keluar dari tempat itu, dan ketika tiba waktu shalat juma’at bel;iau telah sampai di kampung Bani salim bin auf. Maka beliau terus melaksanakan shalat jum’at disuatu masjid yang didirikan diperut lembah. Maka itu permulaan shalat jum’at yang dilaksanakan Rasulullah saw. Didaerah madinah, sebelumbilau mendirikan masjidnya yang mulai itu.” 
Dan dari Al-ustadz Zainal Arifin Abbas Didalam bukunya mengatakan bahwa Tatkala Rasulullah saw. Sampai ditengah-tengah lembah ranuna, yaitu salah satu di antara beberapa banyak lembah dimadinah, antara Quba dan Madinah, beliau berhenti dengan sahabat-sahabatnya, lalu mengerjakan shalat jum’at di sana, yaitu ditempat Bani Salim bin Auf. Inilah jum’at yang pertama yang dilakukan oleh Nabi saw. 
Dan juga ada sejarah shalat juma’at yang diceritakan oleh DR. Wahbah al Zuhaili, mengatakan didalam kitabnya “ Al-fiqhul islamy wa adillatuhu” hal 260: “ shalat juma’at difarduhkan di mekah sebelum hijrah.” Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan ad-Daruquthni dari ibnu abbas ra. Yang menyatakan :
 ادن للنبي صلى عليه وسلم في الجمعة قبل ان يهاجرا فلم يسطع ايجمع بمكة فكتب الى مصعب بن عمير : اما بعد" فا نظر الى ليوم الدي تجهر فيه اليهود بزبور لسبتهم فجمعوا نساءكم فادا مال اانهار عن شطره عند زوال من يوم الجمعة , فتقربوا الى الله
“ Telat diidzinkan ( diprintahkan ) kapada nabi saw. Shalat jum’at sebelum beliu hijrah, tapi beliau tidak kuasa melaksanakanya di mekah. Maka beliau menulis surat kepada mus’ab bin amir bunyinya ; “ Amma ba’du, maka lihatkanlah (perhatikanlah ) hari yang di yatakan oleh orang yahudi az-zabur Untuk hari mereka. Lalu kumpulkanlah perempuan-perempuan dfan anak-anakmu. Apabila matahari terglincir dari puncaaknya mendekati terbenam pada hari jum’at, dekatkanlah dirimu kepada allah dengan melakukan dua rakaat.
Lalu ibnmu abas menegaskan :” inilah permulaan orang (sahabat) melakukan shalat jum’at, sampai nabi saw., datang ke madinah Diadakan ketika zawal pada waktu zhuhur.”
Adalah As’ad bin zurarah, orang yang mempelopori pengumpulan orang-orang. Sedangkan mus’ab adalah tamu undangan mereka yang kemudian shalat bersama-sama mereka dan bertindak sebagai imam, lalu ia mengajari mereka memmbaca dan pengetahuan-pengetahuan tentang islam. Itulah sebabnya di namakan “almuroqi”
Syaikh Muhammad asy- Syaibanni Al-katib memaparkan :” shlalat jum’at itu difarduhkan ketika nabi saw. Masih dimekah dan bertindak sebagai imam, hanya beliau belum dilaksanakannya ketika itu, mungkin karena bilangan kaum muslimin belum cukup, atau karena syi’arnya belum dapat ditampakan, dan waktu itu nabi saw. Masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi.” ( Mugnhnil Muhtaj:hal,: 276/Al-bajuri hal;214)
Adapun orang yang pertama kali menyelanggarakan shalat jum’at di madinah sebelum nabi saw  berhijrah adalah As’ad bin zurarah. Ia melaksanakan di sebuah kampung yang berdekatan kota madinah . (fathul mu’in: 39) ini sesuai yang diriwayatkan dari abdurrahman bin kaab bin malik. Adalah dia biasa menuntun ayahnya yaitu kaab bin malik setelah ayahnya itu buta, bahwa ketika mendengarkan adzan pada hari jum’at ia selalu memintakan rahmat kepada allah untuk asaad bin zurarah.
Abdurahman berkata :” karena itu aku bertanya, mengapa ayah handa apabila mendengarkan adzan selalu memintakan rahmat untuk asaad bin zurarah?: Ayahandanya menjawab:” Karena dia orang yang pertama kali mengadakan shalat jum’at bersama kami di hazmin nabit, salah satu dari kampung bani bayadlah di naqi’ naqi’ul khadlimat”. Aku (abdur rahman ) bertanya lagi:’ berapa jumlah kalian itu?” beliau menjawab:” empat puluh.” 
B. Kedudukan Hukum Shalat Jum’at
Shalah Jum’at memiliki hukum fardlu ‘ain bagi laki-laki dewasa beragama islam, merdeka dan menetap di dalam negeri atau tempat tertentu. Jadi bagi para perempuan, anak-anak, orang sakit dan budak, shalat jumat tidaklah wajib hukumnya baginya. Dalil Al-Qur’an Surah Al Jum’ah ayat 9:

يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْااِذَانُوْدِيَ لِلصَّلوة مِنْ يَّوْمِ اْلجُمُعَةِ فَا سْعَوْ اِلى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوااْلبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌلَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(QS. Al jumuah: 9). 
Dan ada sebagian Ulama ada yang mengatakan bahwa shalt jum’at itu hukumnya fardu kifayah. Sementara itu Prof. Dr. Hasbi ash-shiddiqi berpendapat Bahwa yang dipandang Fardu kifayah itu ia menghadiri jamaah jum’ah. Jadi menurut beliau shalat jum’at itu wajub (fardlu ain) tapi menghadirinya adalah ferdlu kifayah .
Dalam memperhatikan beberapa pendapat tersebut diatas, jelas bahwa dalam memandang status hukum shlat jum’at itu fardlu ain bagi setiap muslim yang mukallaf jika persyaratanya telah terpenuhi. Bahkan dalam kitab irsyadul ibad Imam Zainudin al-Malibari menekankan :” Tanbihaan (inilah dua perhatian) Salah satu dari keduanya ialah bahwa menunaikan shalat juma’at bersama jama’ah atas selain orang-orang yang mempunyai udzur adalah ferdlu ain Dengan ijma ulama. Maka barang siapa yang meninggalkannya-padahal dia bergaul dan membaur dengan sesama muslim menjadi kufurlah dia. Dan oleh karenanya jika seseorang berkata “ Aku shlat dhuhur saja, tidak shalat jum’at, dihukum bunulah dia (atas qaul yang paling shahih). Dan yang kedua ialah sesungguhnya atas orang yang sudah wajib baginya shalat jum’at, seperti orang mekim yang tidak menetap ( penduduk musiman ) memolai pejlalan sesudah fajarnya hari itu, Walaupun bepergianyakarena taat.
C. Syarat-syarat Shalat Jum’at
Persyaratan shalat jum’at adalah:
1. Diadakan pada suatu tempat di mana para jamaah shalat jum’at,
2. Dilakukan secara berjamaah. Para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah minimal jamaah. Abu Hanifah berpendapat sekurang- kurangnya 4 orang termasuk imam. Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hambal mempersyaratkan 40 orang laki-laki dewasa. Sedangkan Imam Malik hanya memberi kriteria, jamaah jum’at harus mencapai jumlah yang layak untuk membentuk perkampungan, 
3. Dilakukan sepenuhnya pada waktu Dzuhur, yaitu ketika matahari tergelincir,
4. Harus di dahului dua khutbah sebelum shalat dengan memenuhi syarat dan rukunnya,
Adapun syarat-syarat khutbah adalah:
a. Dilakukan pada waktu dzuhur,
b. Dilakukan sebelum shalat jum’at,
c. Berdiri bagi khotib, jika mampu,
d. Duduk di antara dua khutbah,
e. Suci dari hadas dan najis,
f. Menutup aurat.
D. Keutamaan shalat jum’at
      Di dalam keutamaan shalat jum’at ibnu Qayyim mengatakan,” Rasulallah saw      memberi petunjuk untuk mengaggungkan, memuliakan, dan mengistimewakan hari jum’at dengan ibadah khusus yang membuatnya berbeda dngan hari yang lain,para ulama bebeda pendapat sehubungan dengan Apakah hari jum’at lebih utama daripada hari arafah atau sebaliknya Dan keduanya merupakan pendapat madhab imam syafi’i”. Kaum muslimin diwajibkan untuk berkumpul mendirikan shalat jum’at, siapa saja diantara mereka yang meninggalkan tanpa ada udzur yang dibenarkan syri’at, maka Allah akan menutup pintu hatinya, membuatnya bodoh, dan menjadikannya sebagai orang yang lalai.
    Hari jum’at terdapat detik-detik saat dikabulkannya do’a. Hari jum’at bagaikan hari raya yang terulang setiap pekan, Abu lubabah bin abdul mundzir meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda
“ Sesungguhnya hari jum’at adalah penghulu hari dan hari yang paling agung di sisi Allah, lebih agung dari ha ri idul adha dan Idul fitri. Dihari jum’at ada lima keistimewaan, pada hari itu, Allah mencipatakan Adam, menurunkan Adam ke bumi, mematikan Adam, ada saat yang jika seseoran meminta sesuatu pada Allah pasti dia akan mengabulakannya selama dia tidak meminta yang haram, dan saat kiamat datang tiada satu pun Malaikat terdekat (dengan allah), tiada pula langit, bumi, angin,gunung,dan lautan kecuali merasa semua welas dengan hari jum’at,. (Hr Ibnu Majah).
      Ibnu Qayyim mengatakan ; “ pada shalat subuh dihari jum’at, Rasulallah saw membaca surah as-sajdah dan al-insan. Saya mendengar dari ibnu taimiyah mengatakan, ‘ Rasulallah saw membaca dua surat tersebut pada shalat fajar dihari jum’at, karena keduanya menuturkan apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi pada hari itu. Kedua surah itu berisi penjelasan tentang penciptaan adam serta hari dikeembalikan dan dibankitkannya manusia. Semuanya terjadi pada hari jum’at. Karena itu, membaca kedua surah itu pada hari jum’at mengingatkan pada pristiwa yang telah terjadi dan yang akan terjadi dimasa mendatang.”
Sebagian ulama bependapat, pada hari jum’at juga disunnahkanuntuk membaca surah al-kahfi.Abu a’id al-Khudri meriwayatkan, rasalullah saw besabda, Siapa saja yang membaca surah al-Kahfi pada hari jum’ah, niscaya dia akan mendapatkan penerangan burupa cahaya diantara dua jum’at.( Hr Hakim)
E. KESIMPULAN
Shalat berjamaah adalah shalat yang dikerjakan bersama-sama, paling sedikit dikerjakan oleh dua orang, satu orang di depan menjadi imam dan yang lainnya di belakangnya menjadi makmum, shalat berjamaah hukumnya sunah muakad, artinya sangat di anjurkan untuk di kerjakan, karena pahalanya berlipat ganda sampai 27 derajat. Syarat-syarat berjamaah dapat dikatagorikan menjadi dua; syarat yang berhubungan dengan imam dan syarat-syarat yang ber hubungan dengan makmum, dan ada juga tentang hukum berjamaah dengan bebeda pendapat, ada yang mengaatakan wajib bagi laki-laki, dan sunah bagi permpuan atas sidzin suami
  Shalat jum’at adalah shalat dua rakaat yang di dahului oleh dua khutbah dan dilakukan pada waktu zuhur dengan berjamaah, shalat jum’at hukumnya fardu’ain, artinya wajub dilaksanakan bagi setiap muslim yang sudah balig, berakal sehat, merdeka, dan orang yang mukim dan mendirikan shalat jum’at pertama kali di masjud Quba di madinah terus nabi memasuki masijid yang ada di madinah dan banyak pendapat tentang permulaan shalat jum’at yang sudah dijelaskan diatas dan ada keutamaan shalat jum’at atau keutamaan hari jum’at,  adapun syarat-syarat jum’at adalah:
1. Diadakan pada suatu tempat di mana para jamaah shalat jum’at.
2. Dilakukan secara berjamaah,
3. Dilakukan sepenuhnya pada waktu Dzuhur,
4. Harus didahului dua khutbah.

0 Komentar untuk "makalah sholat/shalat jumat lengkap"

Terima Kritik dan Saran..tapi ingat, jangan spam yeah ?
Terimakasih